Halaman

Sabtu, 02 Januari 2010

Politik dan Minyak di Timur Tengah

Kemarin tanggal 23 Desember gue nonton film di Trans TV, judulnya Syriana. Interisting movie. Agak membingungkan kenapa judulnya Syriana, karena gak ada setting di Syria. Kalau orang amerika masuk syria bisa ditangkap hidup-hidup tuh orang. Setting lebih banyak negara libanon dan negara penghasil minyak (negara teluk, jazirah arab antah berantah). Ada salah satu scene juga dimana intelijen AS ditangkap Hisbullah di Libanon.

Setelah saya cek di wikipedia ternyata definisi Syriana adalah daerah di Timur Tengah antara Laut Mediterania dan Sungai Eufrat. Coba klik aja disini. Di sana juga bisa anda baca cerita lengkap dan plot film Syriana.

Jadi cerita singkatnya begini. Ada suatu negara di Arab penghasil minyak bumi, sang Emir (semacam raja) sudah tua dan sakit-sakitan sehingga dia akan memberikan kekuasaanya kepada salah satu dari dua anaknya. Salah satu anaknya adalah nasionalis sejati, lulusan universitas terkenal di AS (Georgetown University? Sorry agak lupa). Dia ingin membuat efesiensi di negaranya (dalam kondisi kemewahan negara) diantaranya dengan mengalihkan kontrak perminyakan kepada perusahaan dari Cina (dimana sebelumnya didominasi perusahaan dari AS). Dia juga mengundang seorang analis masalah energi dari AS untuk bekerja dengannya, membantu memberikan saran dan analisa kondisi politik perminyakan di Timur Tengah kepadanya. Namun karena pengaruh AS sang Emir akan menyerahkan kekuasaannya kepada kakaknya yang sebelumnya sama sekali tidak pernah mengurus masalah negara, sedangkan sang kakak berencana menunjuk adiknya sebagai menlu (agar tidak banyak mengurusi masalah kebijakan dalam negeri? terutama sumber kekayaan, yaitu minyak).

Di sisi lain perusahaan AS pemegang kontrak minyak di negeri tersebut mulai resah dan mulai melakukan lobi-lobi politik baik di AS maupun di negara tersebut. Maka petinggi-petinggi di AS berdiskusi dan melakukan kerja intelijen di Timur Tengah. Pada saat acara penghargaan dari perusahaan minyak AS tsb, sang adik sedang dalam perjalanan dengan iringan mobil bersama staf dan pengawalnya. Sedangkan intelijen AS menangkap posisi sang adik dari kamera satelit. Lalu menembakkan rudal (semacam satellite guided missile) yang diarahkan oleh satelit ke arah mobil yang ditumpangi sang adik dan .............Sedangkan di acara tersebut sang kakak mendapat penghargaan dari perusahaan minyak AS yang memegang kontrak di negaranya (penjilatan?).

Di sisi lainnya lagi, para pekerja minyak asal Pakistan di-PHK karena rencana efesiensi dan harus meninggalkan negara arab tsb. Mereka pun juga masih berusaha mencari pekerjaan di negara tsb, sampai akhirnya mereka tinggal di tempat semacam pesantren dimana dikala waktu tertentu mereka berkumpul dan membicarakan dan belajar tentang Islam. Sampai pada suatu saat salah seorang pemuka di pesantren tersebut mengajak dua orang pemuda Pakistan di tempatnya untuk melakukan aksi pengeboman. Kemudian pada suatu hari 2 orang tersebut pergi naik perahu berombongan dengan nelayan lainnya. Di laut terdapat kapal tanker, lalu mereka keluar dari rombongan, menyalakan detonator dan menabrakan perahu mereka ke kapal tanker tsb dan......

Ceritanya fiksi, namun sepertinya cukup mendekati kondisi sebenarnya. Pada awal abad 20 setelah negara-negara di timur tengah lepas dari kerajaan Ottoman, negara-negara tersebut dikuasai oleh Inggris. Pada masa itu pula dimulai eksplorasi minyak oleh negara-negara Barat, terutama Amerika dan Inggris. Karena kebutuhan mereka yang besar untuk industri, maka mereka berusaha sebisa mungkin agar mereka memiliki hegemoni di wilayah timur tengah. Intelijen mereka pun ditempatkan di timur tengah. Pernah mendengar nama Lawrence of Arabia? Dia seorang perwira tentara Inggris yang ditempatkan sebagai intelijen membantu keluarga Saud melepaskan wilayah arab tertentu (dinamakan Arab Saudi karena berada dalam kekuasaan Dinasti Saud) dari kekuasaan Turki. Aneh, kan? Padahal mereka sudah berada dalam wilayah kekuasaan Islam, lagi-lagi ini dipastikan karena materi atau harta, yang pastinya di sana adalah minyak.

Konflik di Timur Tengah memang teramat rumit. Diantara orang-orang Timur Tengah sendiri terdapat konflik, baik dibuat atau direkayasa, selain juga memang orang-orang Timur Tengah pada dasarnya sifatnya keras. Oleh karenanya sebagian negara-negara Arab membolehkan AS membuat pangkalan militer di negaranya, selalu siap berperang melawan negara lain yang berseberangan dengan negara tersebut dan AS sendiri. Gak aneh juga kalau sebagian rakyatnya ingin melawan Amerika, karena pememimpinnya selalu condong ke Barat, dan mereka pun jadi di-cap teroris karena bersikap anti Amerika. Sudah dulu deh, nanti tambah lagi karena bisa panjang kalau dirunut satu-satu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar